Kotbah Minggu Okuli – 3 Maret

1 Korintus 10:1-13

  • Saudara2, sekarang kita berada pada minggu Okuli. Apa artinya Okuli? Kalau kita baca di acara yang kita pegang disana tertulis Okuli memiliki arti “Mataku tetap terarah pada Tuhan”. Siapa yang mengucapkan ini, dia adalah seorang Pemazmur, dia seorang percaya yang selalu mengandalkan Tuhan. Sesungguhnya beginilah sikap hidup orang beriman. Meskipun banyak mengalami penderitaan, godaan, kesulitan bahkan sekalipun kematian telah menantinya, dia tetap mengarahkan pandangnya kepada Tuhan. Situasi hidup bisa berubah-ubah, tetapi iman kepada Kristus tidak boleh berubah. Minggu Okuli ini sedang mengingatkan, kemana arah hidup kita selama ini, apakah kepada harta duniawi, kepada kenikmatan yang ditawarkan, ataukah kepada pengejaran usaha yang sia-sia, atau apa. Tetapi minggu ini mengingatkan kita, tetaplah mengarahkan hidup kepada Tuhan. Apa artinya mengarahkan hidup pada Tuhan? Seluruh harapan, cita-cita dan doa kita harus selalu tertuju pada Tuhan, sukacita dan kebahagiaan kita juga harus selalu berkenan di hadapan Tuhan, bahkan tidak itu saja di saat beban hidup menimpa, pergumulan datang menghadang, cobaan datang menerpa, dukacita silih berganti dengan penderitaan, dalam situasi itupun arah hidup kita haruslah tetap kepada Kristus, sebab hanya dari Dia sajalah kita mendapatkan pertolongan pertama dan untuk selamanya.
  • Saudara2, ada ungkapan yg berbunyi: ‘Pengalaman adalah guru yang baik’. Dalam nas ini Rasul Paulus menyuguhkan pengalaman buruk yg pernah dialami pendahulu mereka yaitu bangsa Israel. Mereka senanang menyembah berhala, mereka suka hidup dalam percabulan, mereka sering bersungut-sungut seperti umat yg tidak mengenal Allah, bahkan dari antara bangsa itu ada yg berani mencobai Allah. Jemaat Korintus diingatkan oleh pengalaman ini. Janganlah mengulangi pengalaman buruk dan suram itu. 

  • Untuk itu saudara2 sebagai umat Tuhan, sebagai anak2 Allah yang telah ditentukannya melalui baptisan, kita diingatkan dan diajak untuk tiga hal:
  • Pertama: Belajar dari pengalaman masa lalu. Rasul Paulus mengajak jemaat Korintus bercermin dari pengalaman masa lalu. Umat Israel yang merasa diri umat pilihan Allah, keturunan Abraham, namun tidak menjaga kekudusan hidupnya. Mereka tidak setia pada status mereka sebagai umat pilihan, sehingga terjatuh ke dalam berbagai pencobaan. Umat itu lebih cenderung mewujudkan keinginannya ketimbang bergantung pada Tuhan. Akibatnya lebih banyak yang binasa dan celaka sebelum tiba pada tanah perjanjian. Saudara2 kita adalah umat pilihan Allah. Dipilih dan ditebus dengan darah Kristus. Tetapi kita harus belajar dari pengalaman. Status itu harus tetap dijaga, dirawat dan dipelihara. Umat percaya harus tetap menjaga diri, menguduskan hatinya untuk tidak sama dengan perangai dunia ini. Sebagai anak Allah itulah harga diri kita. Siapa lagi yg menjaga harga diri itu kalau bukan kita sendiri. Oleh karena itu berusahalah menjaganya dan merawatnya dengan firman dan iman kepada Kristus. Harga diri sebagai anak Allah kita dapatkan dari Allah untuk itu haruslah usaha menjaganya kita tetap meminta pertolongan Tuhan, tetap mengarahkan hidup pada Tuhan, Okuli.
  • Kedua: Berjagalah sebab pencobaan itu melanda semua manusia dan ketahuilah ia berada dalam semua sendi kehidupan kita. Kristus sudah lebih dulu mengingatkan kita. Dia berkata: “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Mrk. 14:38). Kekuatan kita menghadapi pencobaan adalah kesetiaan pada firmanNya dan keteguhan hati kita untuk tetap mengandalkan kuasa Roh Kudus. Dari kemanusiaan kita, kita lemah menghadapi pencobaan, tetapi kuasa Roh dan Firman akan membantu kita menghadapinya. Meletakkan keinginan daging di atas kepentingan Tuhan akan melepaskan kita dari jerat si penggoda. Tanpa doa kita tidak akan sanggup berjaga-jaga, tanpa firman kita tidak kuat menghadapi godaan. Kita masih ingat pengalaman Yesus menghadapi pencobaan iblis. Yesus mengandalkan kuasa firman bukan dirinya sendiri dan Yesus menang.
  • Ketiga: Menangkanlah setiap pencobaan. Rasul Paulus bersaksi bahwa pencobaan yang kita alami sesungguhnya tidaklah pernah melebihi kemampuan kita. Sebab, Allah memberi batas pada kuasa sipencoba dan tidak akan pernah melebihi kemampuan kita. Artinya kalau kita hadapi kita akan menang. Persoalannya banyak orang yang meragukan kekuatan Roh Allah yang ada pada dirinya, akhirnya menyerah, putus asa. Belum bertanding sudah menyerah, belum dihadapi sudah mengatakan terlalu berat, aku tidak sanggup, lebih baik aku mati, lebih baik aku tidak lahir ke dunia ini, ini semua sikap-sikap yang meragukan kekuatan Roh yang sesungguhnya sudah tertanam dalam diri setiap orang percaya. Dalam 1 Yoh 4:4 dikatakan: “sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia”. Jadi,sesungguhnya kekuatan kita tiada taranya. Dibandingkan dengan kekuatan penderitaan, pencobaan dan kesulitan kita, masih lebih besar kemampuan yg Tuhan berikan bagi kita. Tetapi yang menjadi persoalan kedua, kita sering meremehkan setiap pencobaan dan pergumulan kita, terlalu percaya pada diri sendiri, akhirnya melupakan Tuhan. Di saat kita mengalami pencobaan sesungguhnya Tuhan telah menyediakan pertolonganNya pada kita. Di saat Tuhan menguji iman kita, sekaligus Dia menyertakan kekuatan pada kita agar kita menang. Tuhan tidak pernah menguji iman kita agar kita jatuh. Ketika Tuhan menguji kita, Tuhan mau memakai kita untuk mempermalukan kuasa iblis, bahwa ternyata orang percaya itu seteguh batu.
  • Keempat: Allah itu Setia, Dia menyanggupkan kita dalam semua keadaan. Karena itu kita tidak perlu kuatir. Meskipun terkadang kita tidak setia, tetapi itu tidak membuat Allah merubah sikapnya untuk tidak setia. Allah itu setia oleh sebab Dia tidak akan pernah tinggalkan kita, dia tidak akan pernah membiarkan kita sendiri. Dia tidak akan membiarkan kita sedih, sakit dan berduka selamanya. Allah setia, oleh karena itu Dia akan selalu memberi yang sanggup kita lalui, dia akan mengijinkan setiap pencobaan, penderitaan dan beban hidup yang tidak akan pernah melebihi kemampuan kita. Itu jugalah yang kita hadapi sekarang, jemaat HKBP Serpong. Lewat pembangunan gereja, kita diberi beban, tanggung jawab bersama. Jika Tuhan masih menginginkan dan menginjinkan beban itu kita pikul bersama, maka sesungguhnya tanggung jawab itu tidaklah melebihi kesanggupan kita, tidaklah melebihi kemampuan keluarga kita. Dan bila kita mau dan iklas menanggung beban tersebut, ketahuilah sesungguhnya Tuhan telah menyediakan gantinya untuk kita. Bila Tuhan yang membebankan, maka Tuhan sendirilah yang membantu kita menanggung beban itu asal saja kita mau, iklas dan berusaha sekuat tenaga di dalam keyakinan pada Kristus. Amin!
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s