KELUARGA, PEKERJAAN DAN PELAYANAN*

1 Tim. 3:1-7; Kol. 3:23-24

I. Pengantar
1. Tidak dapat dipungkiri panggilan menjadi seorang sintua atau penatua adalah pengorbanan. Begitu terjun dan terlibat dalam aktivitas pelayanan gereja, maka kita harus rela mengorbankan tenaga, pikiran dan waktu juga materi demi tugas pelayanan. Namun, sisi yang paling penting adalah panggilan menjadi seorang sintua merupakan anugerah atau pemberian dari Tuhan. Karena panggilan itu dari Tuhan, maka tugas yang diemban adalah pekerjaan Tuhan bukan pekerjaan manusia. Jadi sesungguhnya, menjadi seorang sintua berarti bekerja untuk Tuhan.

2. Hal kedua yang tidak dapat dipungkiri adalah seorang sintua memiliki keluarga, apakah isteri atau anak, atau orangtua. Tentu dengan demikian dituntut sebuah tanggungjawab yang baik, apakah sebagai kepala keluarga, sebagai isteri atau sebagai anak, atau sebagai orangtua. Dalam situasi inilah seorang sintua hidup. Di satu pihak diharapkan bertanggungjawab penuh dalam keluarga, namun di pihak lain tugas sebagai sintua meminta tanggungjawab sebagai pelayan Tuhan (bd. 1 Tim. 3:4-5+12 … seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah? … mengurus anak-anaknya dan keluarganya dengan baik). Tuhan tidak membenarkan kita berlindung dengan alasan tugas pelayanan, sehingga keluarga menjadi terlantar.

3. Hal ketiga yang tidak dapat dipungkiri bahwa seorang sintua juga adalah seorang pekerja. Mereka memiliki pekerjaan masing-masing untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tentu, Tuhan tidak menginginkan hambanya lalai dan kurang bertanggungjawab pada pekerjaannya. Tuhan menghendaki hambaNya dan umatNya memiliki etos kerja yang tinggi, setia pada pekerjaan dan berani menegakkan kebenaran. (bd. Ef. 4:28 … tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan). Tuhan tidak membenarkan kita bolos, korupsi waktu sehingga pekerjaan terlantar karena alasan tugas pelayanan.

4. Tuhan sangat tolerir dan sangat menghormati tanggungjawab kita dalam keluarga dan pekerjaan kita. Bahkan, Tuhan menganugerahkan waktu, kekuatan dan akal budi, agar kita dapat mengelola dan mengerjakan tugas-tugas itu dengan baik. Namun, ketika Tuhan juga menuntut tanggungjawab penuh dari kita sebagai hambaNya untuk melakukan pekerjaanNya, kita juga harus menjungjung tinggi dan menghormati tugas itu. Kita harus melakukannya dengan tulus, sungguh-sungguh dan atas kesadaran yang tinggi, bukan karena terpaksa, apalagi menjadi beban berat.

5. Sampai di sini, Tuhan mengharapkan kita sebagai hambaNya khususnya sebagai seorang sintua berlaku sebagai sintua yang bertanggungjawab dalam tugas pelayanan, sekaligus menjadi bagian dari keluarga yang menjunjung tinggi nilai-nilai kekeluargaan serta bertanggungjawab dalam pekerjaan. Dalam PA ini, tidak bermaksud untuk memisahkan satu sama lain, namun bagaimana kita dapat menselaraskannya dan melakukannya dengan tidak melihat perbedaan dari tugas-tugas tadi, tetapi melihat kesamaannya sama-sama menuntut tanggungjawab yang baik.

6. Tentu ini tidak mudah. Bagaimana pun, kita pasti menghadapi pergumulan dan dilematis. Apalagi, ketika tugas-tugas itu menuntut di saat yang sama. Tentu, dalam hal inilah kita diajak untuk bersikap bijaksana, logis dan berhati mulia. Menjauhkan bahkan menanggalkan dan meninggalkan sikap acuh, tidak mau tau, peduli amat atau remeh pada tugas-tugas kita. Namun, tidak perlu kuatir, Tuhan menanamkan dalam diri kita akal budi dan pengertian, hikmat dan kecakapan untuk membantu kita mengambil keputusan bertindak dan bersikap baik (bd.Ef.1:7-8 Sebab di dalam Dia dan oleh darahNya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karuniaNya, yang dilimpahkanNya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian).

II. Bahan Diskusi
1. Realitas menggambarkan bahwa kita sering berhadapan dengan dilema antara tugas keluarga, pekerjaan dan pelayanan. Dari pengalaman kita, solusi apa yang pernah kita tempuh? Dan bagaimana kita menemukan solusi yang bijkasana?

2. Hal yang tidak asing lagi bagi kita adalah, ketika pada hari Minggu atau Partangiangan, kebutuhan/kewajiban akan adat menuntut peran kita. Dari pengalaman kita, apa yang kita lakukan ketika itu? Dan, mari kita pikirkan bersama, seharusnya bagaimana solusi terbaik?

* Perenungan pada Retreat Parhalado HKBP Serpong

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s