Renungan Minggu Advent II 2010

MENANTI KEDATANGAN KRISTUS KEDUA KALINYA

Lukas 21:25-33

1.      Kedatangan Kristus keduakalinya pasti tiba. Itu telah dinubuatkan oleh para nabi. Artinya kedatanganNya bukan rekayasa manusia, bukan terkesan tiba-tiba, bukan tidak terjadwal, sehingga dengan demikian tidak seorangpun berdalih bila hal itu datang kelak. Dalam artian, yang dinantikan itu adalah sesuatu yang pasti dan terencana. Rencana kedatanganNya itu pun sudah diinformasikan jauh sebelumnya. Namun, untuk menantikan kedatanganNya itu, perlu bagi orang percaya mempersiapkan diri. Secara liturgi, kita memiliki empat masa penantian yang disebut sebagai Advent. Empat masa Advent ini membawa kita memfokuskan diri untuk mempersiapkan iman, membekali diri menyambut Dia yang akan datang kembali.

2.      Yesus melalui kotbah dan pengajaranNya menjelaskan bahwa kedatangan Anak manusia itu ditandai dengan gejala/perilaku alam yang luar biasa. Yang lebih menarik di sini, Yesus secara detail memberikan informasi akan kedatanganNya kelak. Dapat kita temukan di ayat 25-26, informasi tanda-tanda kedatanganNya kedua kalinya, yaitu gejala atau perilaku benda-benda langit seperti matahari, bulan dan bintang. Juga, deru dan gelombang laut yang amat dasyat, serta kuasa-kuasa langit akan goncang. Allah memakai gejala alam untuk menandakan bahwa kedatanganNya akan segera tiba. KedatanganNya tidak terkesan menjebak atau menjaring manusia dalam hidupnya yang sedang berbuat dosa. Tetapi, ada tanda-tanda melalui gejala alam, ada peringatan dini. Gejala alam/perilaku alam menjadi suatu tanda untuk membantu kita menyadarkan diri, mengingatkan diri bahwa Dia segera datang. Karena waktu dan saatnya tidak seorangpun yang tahu, maka orang percaya harus senantiasa siaga dan bersiap sedia kapan dan dimanapun saat itu tiba.

3.      Orang percaya yang hidup dalam penantian Kristus yang keduakalinya senantiasa terjaga dan dan siuman. Seperti gadis-gadis yang bijaksana yang membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-bulinya (Mat. 25:4). Sungguh celaka, apabila saat itu telah tiba, kita tidak memiliki persiapan menyambutnya. Hal ini ibarat seorang ibu yang sedang hamil atau ibu yang sedang menyusukan anaknya tidak sadar saatnya sudah tiba (ayat. 23); atau seperti gadis-gadis yang bodoh yang membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyaknya (Mat. 25:3). Masa Advent adalah waktu pemberian Tuhan atau kesempatan yang sangat berharga dan menentukan bagi masa depan kita dalam rangka menyambut suka cita besar kedatangan Kristus kedua kalinya. Masa Advent adalah masa untuk membenahi diri, membekali diri, dan mengisinya dengan sikap dan perbuatan iman yang benar sepanjang hidup kita.

4. Apa yang harus kita benahi di masa-masa menanti-nanti kedatanganNya kelak?

1. Kesadaran bahwa Allah dapat memakai gejala alam/perilaku alam sebagai tanda bagi Tuhan untuk mengingatkan kita akan kedatanganNya.

Tanda-tanda itu tidak selalu gejala alam yang dasyat dan mematikan. Artinya, alam dan perilakunya haruslah kita lihat sebagai tanda keberadaan Allah dengan demikian sekaligus mengingatkan kita akan hari kedatanganNya kelak. Matahari, bulan dan bintang, gunung, laut, sungai dan hutan serta eksistensi alam lainnya mengingatkan kita akan keberadaan Allah, sekaligus mengingatkan kita, kelak Dia akan datang kembali. Tidak sedetikpun kita berpisah dengan gejala/perilaku alam. Selama kita hidup, selama itu pula kita melihatnya. Dengan kesadaran ini, akan membantu kita untuk tetap terjaga dan teringat akan kedatangan Kristus dan berbenah diri untuk menyambutNya.

2. Selalu hidup dalam Firman Tuhan

Tuhan Yesus berkata: “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataanKu tidak akan berlalu”. Selain perkataan Yesus atau Firman, tidak satupun yang abadi di dunia ini. Segala sesuatunya akan berakhir, segala sesuatunya mengalami limatasi dan menuju kebinasaan. Bila langit dan bumi akan berlalu, seiring dengan itu juga kehidupan manusia pun akan berlalu, harta, kekayaan, uang, jabatan dan segala sesuatu yang berharga dalam hidup ini pun akan berlalu. Cinta dan kasih kita pun akan berlalu, keinginan-keinginan pun akan lenyap. Sukacita dan penderitaan pun akan berakhir. Segalanya sementara, dan hanya sebagai alat bagi kita untuk melayani Tuhan dan sesama sekaligus membenahi diri menyambut kedatanganNya kelak. Masa Advent mengingatkan kita agar selalu hidup dalam Firman Tuhan. Berorientasi pada kehendak Tuhan. Yesus berkata hanya perkataanNya yang kekal, hanya firman yang abadi. Di dalam firman Tuhan terkandung harta sorgawi dan keselamatan. Agar senantiasa hidup dalam firman Tuhan, maka persekutuan denganNya harus semakin ditingkatkan agar semakin intensip dan berkualitas. Inilah hal yang ketiga yang perlu kita persiapkan menyambut kedatanganNya.

3. Persekutuan yang intensip dan berkualitas

Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan intensitas persekutuan yang berkualitas dalam rangka menyambut kedatangan Kristus.

1.      Berdoa

Yesus berkata: “…berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan…” ( Mat. 26:41); Paulus berkata: Tetaplah berdoa (I Tes.  5:17). Berdoa bukan hanya sekedar permohonan kepada Tuhan. Berdoa bukan hanya meminta berkat dan kekuatan pada Tuhan. Bila Yesus dan Paulus menganjurkan untuk berdoa, itu juga dalam rangka sikap penantian akan datangnya Kristus. Supaya kapan dan dimanan pun bila saat itu tiba, kita didapat hidup dalam doa.

2.      Bersekutu

Di berbagai gereja selalu mengadakan persekutuan doa seperti partangiangan wiyk, kategorial dan kebaktian khusus lainnya. Hal ini mengakomodir kita untuk tetap hidup dalam persekutuan dengan Tuhan. Persekutuan doa, bukan sekedar pertemuan jemaat, bukan hanya memuji Tuhan dan mendengarkan firmanNya saja. Keaktipan dan pertumbuhan dalam persekutuan dengan Tuhan harus kita pahami sebagai sikap yang kita tunjukkan sebagai tanda kesiapan kita menanti kedatanganNya. Bila Tuhan datang, dia mendapati kita hidup dalam persekutuan.

3.   Beribadah (Ibadah Minggu dan ibadah gerejawi lainnya)

Mengikuti ibadah Minggu dan ibadah gerejawi lainnya, bukan sekedar rutinitas dan penjadwalan ibadah semata. Mengikuti ibadah bukan hanya persekutuan jemaat, mendengarkan firman dan kemuji keagungan Tuhan atau hanya untuk memohon pengampunan dosa saja. Tetapi, kesungguhan dan kekudusan hati mengikuti ibadah harus dipahami sebagai sikap/ respon kita bahwa kita sedang menanti-nanti kedatangan Kristus. Bila saat Tuhan datang, Dia mendapati kita hidup dalam ibadah (dibagasan hadaulaton).

4.      Kasih dan kemurahan

Tuhan Yesus memerintahkan kita agar hidup dalam kasih dan kemurahan. Dalam kotbah-kotbah minggu dan kebaktian lainnya selalu didorong agar orang percaya hidup dalam kasih dan kemurahan. Perbuatan kasih dan kemurahan bukan saja mewajibkan kita untuk menaruh kasih kepada. Bukan saja untuk menunjukkan kepedulian dan rasa berbagi dengan sesama. Tetapi, bila kepada kita dinasihatkan untuk mengasihi dan bermurah hati, juga merupakan bagian dari persiapan kita menyambut Dia yang akan datang kelak. Bila suatu saat hariNya tiba, Dia mendapati kita hidup dalam perbuatan kasih dan kemuruahan. Amin!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s