Mengenal diri di hadapan Allah-Mananda diri di jolo ni Debata

Renungan Minggu, 01 Agustus 2010
Matius 7:1-5

Mengenal diri tentu tidak hanya sekedar tahu apa makanan dan minuman kesenangan kita, apa bakat/hobi dan profesi kita. Tidak juga, kalau dengan hafal mati bisa mengisi biodata pribadi kita. Betul, semua itu juga bagian dari pengenalan diri. Tetapi itu hanya bagian kecil dari yang terpenting dan yang hakiki. Apa yang mau digali oleh firman ini untuk kita adalah bagaimana mengenal diri di hadapan Allah. Rasul Paulus membantu kita untuk mengenal diri kita di hadapan Tuhan. Dia mengatakan: “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak’ (Rom. 3:10). Dalam artian, di hadapan Allah, manusia adalah berdosa, tidak ada kebenaran, dan tentunya tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Dalam keadaan ini, manusia memiliki status yang sama dengan sesamanya, tidak berbeda. Sama-sama berdosa dan sama-sama mengharapkan pengampunan dan keselamatan. Pengenalan diri seperti inilah yang diharapkan dari kita, agar terhindar dari sikap menghakimi sesamanya manusia.

Firman kali ini mengatakan: “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi”. Artinya, menghakimi sesama, sama halnya menghakimi diri sendiri. Dengan kata lain, mengangkat diri sendiri menjadi hakim atas sesama, sama halnya menghakimi diri sendiri. Besaran penghakiman yang kita tujukan, itu juga yang kita terima. Ini menggambarkan keberadaan kita yang sama di hadapan Tuhan. Oleh sebab itu jangan saling menghakimi. Hanya Allah yang menjadi hakim yang adil atas semua manusia. Jadi, apa yang harus kita lakukan:

1. Mengasihi sesama seperti diri sendiri (Mat. 22:39). Hidup saling mengasihi akan menghindarkan kita dari perseteruan. Sebaliknya, akan menciptakan rasa kebersamaan dan persaudaraan yang hangat dalam Kristus.

2. Saling membantu dan memperhatikan (Ef. 4:2). Saling membantu dan memperhatikan akan menjauhkan kita dari sikap kesombongan dan mementingkan diri sendiri, tetapi membuka hati untuk semua orang, terlebih orang kecil, miskin dan lemah (Kel. 23:6-9).

3. Saling mendoakan (Jak. 5:16). Hidup yang saling mendoakan akan memampukan setiap orang bertumbuh ke arah kedewasaan iman, dan terhindar dari fanatisme agama.

4. Saling menegor (1 Tim. 5:20). Saling menegor dalam kasih adalah tanda kedekatan kita dengan sesama. Jauh dari sikap pembiaran kepada sesama untuk melakukan kejahatan dan dosa.

Namun dari semua itu, mau menunjukkan pengenalan diri kita di hadapan Allah. Siapa kita di hadapanNya adalah orang yang telah menerima janji keselamatan. Untuk itu, ’Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia’ (Kol. 3:23).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s