ALLAH BEKERJA MENDATANGKAN KEBAIKAN DALAM HIDUP, PENDERITAAN DAN PENGHARAPAN ORANG PERCAYA

BAHAN SERMON RESORT HKBP SERPONG

RABU, 6 JUNI 2012

2 KORINTUS 4:16-18

 

 

  1. Menurut para teolog surat Paulus yang kedua kepada jemaat di Korintus ini ditulis pada masa yang sulit dalam hubungan Paulus dengan jemaat itu. Ada beberapa anggota jemaat yang rupanya telah menyerang Paulus dengan keras, tetapi Paulus menunjukkan bahwa ia ingin sekali berbaik. Dalam rangka perbaikan ini Rasul paulus menjelaskan dalam suratnya mengapa ia mengecam dengan keras perlawanan dan celaan terhadap dirinya yang dilakukan oleh jemaat itu. Dan pada akhirnya kecamannya yang keras itu menghasilkan pertobatan dan kerukunan.
  2. Dalam suratnya ini Rasul Paulus menunjukkan sikapnya yang rendah hati. Dia mengakui bahwa pelayanan yang diterimanya sebagai Rasul dan juga pelayanan para teman-teman sepelayanan hanyalah pemberian Allah. Tugas pelayanan memberitakan Injil merupakan kemuruahan Allah bagi mereka, bukan karena hasil usaha dan kerja keras mereka untuk mendapatkannya. Atas dasar ini Rasul Paulus meyakini Allah sebagai Pemberi tugas (mandat) pelayanan itu akan memberi penyertaanNya dan kemampuan bagi mereka serta kesetiaanNya mendampingi Rasul Paulus dan teman sekerjanya selama tugas pelayanan. Inilah yang menumbuhkan semangat dan sukacita bagi Rasul Paulus sehingga ia mengatakan bagaimana pun berat dan tantangan yang dihadapi dalam tugas pelayanan ini dia dan rekan sepelayanannya tidak akan tawar hati.
  3. Ada beberapa alasan yang tersirat membuat Rasul Paulus tidak tawar hati, yang pertama, tugas yang mereka emban adalah dari Allah yaitu memberitakan Kristus sebagai Tuhan, bukan diri mereka sendiri. Kedua, Rasul Paulus menjadi hambaNya karena kehendak Kristus. Ketiga, Kristus itu adalah Terang, itulah yang menerangi mata hati setiap orang percaya sehingga beroleh pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang terlihat dari wajah Kristus. Keempat, Rasul Paulus menyadari dia hanyalah bejana tanah liat di tangan Tuhan, tetapi kekuatan Allah yang melimpah-limpah (dasyat) diam di dalamnya.  Kelima, belajar dari pengalaman hidup bersama Tuhan, meskipun mengalami berbagai kesulitan, dalam segala hal ditindas, namun tidak terjepit; habis akal, namun tidak putus asa; dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, dihempaskan, namun tidak binasa. Keenam, Rasul Paulus sadar hidupnya bak membawa kematian Yesus melalui penderitaan yang dialaminya, namun dia yakin kehidupan Yesus juga menjadi nyata dalam hidupnya. Ketujuh, Rasul Paulus memiliki keyakinan yang teguh bahwa Dia yang membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan orang percaya bersama-sama dengan Yesus.
  4. Rasul Paulus memegang teguh keyakinannya pada Kristus, meskipun secara manusiawi atau secara lahiriah (badaniah) dia semakin merosot, namun Allah senantiasa membaharui semangat, kekuatan dan memberi hikmat dan pengetahuan untuk mengemban tugas mulia itu. Berangkat dari keteguhan iman inilah Rasul Paulus berani mengambil kesimpulan bahwa penderitaan yang dialaminya bersama rekan-rekan sepelayanan adalah penderitaan ringan. Bahkan Paulus menerima penderitaan itu sebagai suatu proses dimana Allah bekerja untuk mendatangkan kemuliaan kekal dan berkat melimpah di sorga. Bila kemuliaan kekal dan berkat sorgawi ini dibandingkan dengan penderitaan ringan tadi, maka tidaklah terbandingkan. Rasul Paulus bersaksi bahwa penderitaan sekarang ini tidak ada apa-apanya bila kelak orang percaya menerima kemuliaan kekal dari Allah.
  5. Meskipun Rasul Paulus berkata: “Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal”, sesungguhnya dalam skala prioritas iman. Bagaimanapun Rasul Paulus tetap bersentuhan dan membutuhkan hal-hal yang kelihatan. Namun dia memandang hal-hal yang kelihatan itu bersifat sementara dan mengalami kemerosotan, artinya terbatas atau memiliki limitasi. Ini menguatkan pernyataannya pada ayat 16 tadi “manusia lahiriah yang semakin merosot”. Rasul Paulus menegaskan bahwa yang utama (prioritas) adalah memperhatikan yang tidak kelihatan yaitu berkat sorgawi, kemuliaan yang akan dialami bersama Kristus dan pembaharuan rohani oleh Allah dari sehari ke sehari.
  6. Dari nas kotbah ini adalah tiga yang menjadi bahan perenungan:
    1. Tidak tawar hati/ jangan tawar hati. Teolog Pdt. Eka Darmaputra memadankan istilah tidak tawar hati ini dengan beberapa sebutan yaitu: tidak kecil hati, tidak frustrasi, tidak stress, dan tidak depressi. Dalam PL istilah ini ditemukan 11 kali (Yos. 1:9; 8:1; 10:25; 14:8; 1 Sam. 17:32; 2 Sam. 17:10; 1 Taw.22:13; 28:20; Amsl 24:10; Yes. 8:6; 35:4). Dalam PB ditemukan 5 kali (2 Kort. 4:1; 4:16; Ef. 3;13; Kol. 3:21; 1 Tes. 5:14). Dalam deretan ayat ini ada beberapa padanan kata yang dipakai atau istilah yang digandengkan yaitu: Kuatkanlah hati, teguhkan, jangan kecut, dan jangan kecil. Dalam bahasa Batak diartikan: Unang tahuton. Dan biasanya selalu diikuti dengan: Unang mabiar, pir ma tondim, marsihohot, dll. Bersama Tuhan serta keyakinan yang teguh pada pertolongan Tuhan tidak akan membuat kita tawar hati, sehingga tidak ada yang harus ditakuti, kita harus kuat, bangga memiliki Kristus, berbesar hati, hidup selalu bersyukur supaya tetap memiliki sukacita.
    2. Allah bekerja dalam setiap penderitaan yang dialami setiap orang percaya. Penderitaan itu adalah bagian hidup manusia, tentu orang percaya juga. Penderitaan tidak akan pernah lepas selama nafas masih dikandung badan. Namun, Firman Tuhan dan RasulNya Paulus mengajak semua orang percaya memandang penderitaan itu bukan sesuatu penghalang atau beban tetapi sebagai realitas hidup dunia yang di dalamnya dibutuhkan perjuangan, kekuatan dan iman kepada Kristus. Dalam penderitaan orang percaya Kristus bekerja di dalamnya. Karena Kristus bekerja maka ada kekuatan, ada hikmat dan ada pengharapan. Oleh sebab itu tidak perlu tawar hati, kecut dan takut menghadapi penderitaan itu.
    3. Senantiasa mengarahkan hidup untuk memperoleh harta sorgawi, kemuliaan kekal. Rasul Paulus memahami bahwa selama hidup di dunia ini haruslah memandang pada Kristus dan kemuliaan yang akan dianugerahkan bagi orang percaya. Karena hidup di dunia terbatas dan mengalami kemerosotan secara manusiawi dan lahiriah, maka jangan disia-siakan. Hidup jasmani dan rohani kita ibarat alat atau bejana tanah liat di tangan Tuhan. Meskipun lemah, rapuh dan buruk tapi ada potensi Tuhan di dalamnya. Orang percaya diajak untuk memakai potensi itu dengan tetap mengarahkan hidup dan untuk mencari harta sorgawi melalui hidup ini. Ini sepadan dengan ucapan Yesus, “Carilah dahulu kerajaan Allah, dan kebenaranNya maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat. 6:33). Sikap hidup ini jugalah yang dimiliki Rasul Paulus yang dapat kita lihat dari pernyataannya: ‘Bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan (Pil. 1:21).
About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s